Jakarta - PT Asuransi Kredit Indonesia atau Askrindo (Persero) siap menghadapi gempuran perusahaan asing dalam mengembangkan asuransi kredit di Indonesia. Bentuk antisipasi yang dilakukan adalah dengan meningkatkan efisiensi dan meningkatkan mutu perusahaan.
 
Direktur Utama Askrindo Antonius C.S Napitupulu menjelaskan, umumnya perusahaan asuransi global yang datang ke Indonesia adalah perusahaan asuransi dengan tingkat efisiensi tinggi. Mereka menawarkan harga yang kompetitif sehingga siap bersaing di pasar.
 
Melihat hal ini, Askrindo juga akan menghitung biaya produksi seakurat mungkin sehingga bisa memberikan harga yang bisa bersaing. Dampak dari hal ini memang akan terjadi perang tarif di pasar.
 
Oleh karena itu, menurut Antonius, perseroan tidak sekedar meningkatkan efisiensi namun juga meningkatkan mutu perusahaan. Peningkatan mutu bisa dilakukan dengan menambah jaringan agen dan mengedepankan pengalaman yang sudah dimiliki.
 
"Pemain asuransi kredit saat ini berjumlah enam sampai delapan perusahaan, dan ada beberapa perusahaan asing lain yang akan masuk, namun kami tidak gentar karena potensi asuransi kredit di Indonesia cukup besar, penetrasinya saat ini baru 2 persen dari total GDP,"ujarnya di Jakarta, Selasa (25/11).
 
Antonius melanjutkan, peningkatan mutu juga dilakukan dengan meningkatkan kinerja perusahaan. Sebagai perusahaan yang berdiri sejak tahun 1971, Askrindo sudah melakukan penjaminan kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 84 triliun selama tujuh tahun.
 
Sementara dari segi laba, sampai Oktober 2014 sudah tercatat sebesar Rp 551,35 miliar, naik dibandingkan Oktober 2013 sebesar Rp 325,37 miliar. Sedangkan dari sisi pendapatan premi sudah terhimpun Rp 1,83 triliun sampai Oktober 2014, naik dibandingkan Oktober 2013 yang mencapai Rp 1,19 triliun. Selanjutnya dari sisi klaim, perseroan sudah membayarkan Rp 757,66 miliar sampai Oktober 2014, naik dibandingkan Oktober 2013 sebesar Rp 436,84 miliar.
 
Menurut Antonius, pertumbuhan laba bersih yang terjadi di Askrindo merupakan buah kerja keras karyawan dan pihak manajemen dalam membangkitkan Askrindo dari krisis yang pernah mendera pada tahun 2009 dan 2010. Pada periode tersebut, Askrindo sempat mengalami kerugian dan juga kehilangan kepercayaan dari mitra dan debitur.
 
Untuk membangkitkan Askrindo dari keterpurukan, Antonius meyakinkan kembali mitra dan perbankan.
 
"Kami melakukan roadshow dengan mendatangi satu per satu mitra kami, kami datangi langsung dan memberikan kepercayaan kalau perusahaan kami masih bagus,"terangnya,
 
Sedangkan dari dalam, perseroan melakukan transformasi budaya. Karyawan yang selama ini sekedar menunggu debitur datang, namun sekarang mereka diharuskan keluar dan mendekati nasabah. Selain itu, perusahaan juga memperbaiki remunerasi karyawan, yaitu dengan menggunakan key performance index (KPI).
 
"Dengan keyakinan dan kepercayaan yang kami buat, setelah krisis pada 2009 dan 2010, pada 2011 kami mencatat laba sebesar Rp 100 miliar,"ujarnya.
 
Penulis: GTR/FMB
 
Sumber:Investor Daily




Artikel Selanjutnya >

Copyright © 2015 Askrindo - Indonesia. All Rights Reserved