Jakarta - Antonius Chandra Satya Napitupulu mungkin masuk kategori top executive ideal masa kini: transparan, berorientasi target, percaya pada kekuatan jaringan, peka pada perubahan, bervisi ke depan tapi sekaligus menghormati sejarah perusahaan.
 
Hal itu terungkap dalam perbincangan bersama CEO PT Askrindo ini, bagaimana dia bersedia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan sensitif oleh host Pirmus Dorimulu tentang rahasia dapur perusahaan, termasuk sistem penggajian dan krisis yang pernah mendera perusahaan.
 
Askrindo, kepanjangan dari Asuransi Kredit Indonesia, merupakan salah satu Badan usaha Milik Negara (BUMN) yang sekarang dikenal sangat sehat, dengan laba di atas Rp500 miliar.
 
Namun ketika Antonius dipercaya sebagai pimpinan pada 2011, tingkat kepercayaan nasabah sangat rendah sebagai dampak dari krisis yang melanda.
 
"Pada 2009-2010 Askrindo mengalami kisis karena kondisi operasionalnya mengalami gangguan. Akibatnya para mitra menahan diri," kata Antonius dalam program CEO Talks di Beritasatu TV, Rabu (3/12) malam.
 
Maka prioritas dia ketika itu adalah bagaimana meyakinkan kembali para mitra usaha.
 
"Kami melakukan road show, kami datangi satu per satu para mitra, kami datangi para kepala-kepala cabang untuk meyakinkan bahwa kondisi kami bagus dan potensi masih bisa berkembang," ujarnya.
 
Sementara ke dalam, Antonius juga meyakinkan para karyawan bahwa mereka bekerja di perusahaan besar yang akan bisa kembali bangkit dan berkembang oleh mereka juga.
 
"Yang perlu dilakukan adalah transformasi budaya. Kita adalah team work, dan kita harus keluar untuk bertemu dan meyakinkan nasabah. Untuk bisa melakukan itu, kami harus yakin dengan diri sendiri," paparnya.
 
Antonius juga merombak sistem penggajian menjadi lebih fair dan transparan.
 
"Kami mengubah mekanisme menjadi renumerasi berbasis kinerja, berdasarkan key performance indicator system."
 
Kinerja karyawan tidak diukur lewat gaji bulanan, namun renumerasi yang dihitung per tahun lewat gaji, bonus dan tunjangan, sehingga dalam satu tahun penuh itu setiap karyawan harus benar-benar perform untuk mendapatkan manfaat maksimal dari insentif yang disediakan perusahaan, jelasnya.
 
"Sekarang BUMN pun dituntut harus bisa bersaing, SDM harus handal. Yang malas terpaksa harus ngikut. Dulu ada pepatah 'jauh dekat sama saja', sekarang tidak ada. Yang tadinya diam saja akan malu sendiri," kata Antonius.
 
Kebijakan di bidang sumber daya manusia ini ternyata membawa perubahan besar dalam kinerja perusahaan. Secara bertahap, pada akhir 2011 perusahaan bisa meraup laba bersih sekitar Rp 100 miliar, hanya satu tahun semenjak krisis.
 
Maka pada 2012 perusahaan pun berani mematok target lebih ambisius.
 
"Laba bersih Rp 500 miliar harus bisa dicapai dalam lima tahun, atau pada 2017," ungkapnya. Dan jauh dari tenggat, target itu sudah terlampui sekarang.
 
"Tahun ini sampai dengan Oktober ternyata kita bisa mencapai sekitar Rp 510 milar," katanya menjawab pertanyaan Primus.
 
Antonius mengatakan bahwa sebagai perusahaan yang sudah berdiri sejak 1971, Askrindo memiliki brand yang kuat dan pengalaman usaha yang sangat berharga, sehingga layak diperjuangkan dan dikembangkan.
 
Dia sama sekali tidak berusaha menghindar ketika didesak Primus soal weaknesses perusahaan.
 
"Kelemahan pada jejaring kami. Dulu kami lebih banyak menerima sehingga kami memandang tidak perlu punya cabang. Tunggu bola," ujarnya.
 
Maka ketika dia menjadi nahkoda perusahaan, sektor inilah yang digarapnya secara serius selain masalah SDM, dan terbukti mampu membawa catatan laba menembus angka Rp 500 miliar.
 
"Apalagi tahun depan asing mulai masuk. Kami harus mempersiapkan diri, membangun jejaring sebanyak mungkin, bisa kantor cabang maupun mitra dengan keagenan dan teknologi informasi," paparnya.
 
Untuk mengetahui lebih lanjut strategi manajerial Antonius, silakan simak video berikut:
 
 
 
Penulis: Heru Andriyanto/HA
Sumber : beritasatu.com




Artikel Selanjutnya >

Copyright © 2015 Askrindo - Indonesia. All Rights Reserved